![]() |
![]() |
Masih Membutuhkan Dana APBD

Saat ini, di sepak bola nasional, tuntutan untuk mereformasi PSSI semakin kencang berhembus. Kasus-kasus korupsi dana APBD satu persatu muncul kepermukaan lewat media. Hingga akhirnya muncul Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 2011 yang melarang penggunaan APBD untuk klub profesional.
Hal ini kontan menimbulkan pro kontra dikalangan sepak bola nasional itu sendiri. Beberapa argumentasi dari kalangan yang pro mengatakan bahwa sudah sepatutnya klub-klub yang berlaga di kompetisi profesional bisa mandiri secara manajerial sehingga dapat menghasilkan industri.
Sedangkan sebagian kalangan lagi menganggap bahwa penghentian kucuran dana pemerintah itu bisa mematikan klub secara langsung.
Salah satu yang berpendapat demikian adalah Rahmad Darmawan. “Menurut saya selayaknya dana APBD itu tetap ada. Karena bagaimana pun kalau kita membandingkannya dengan MU atau Real Madrid, ya memang tolak ukurnya jauh,” kata Rahmad.
Ia lalu mengatakan, jika kita melihat ke sepakbola di negara Korea Selatan, dimana disana sudah dianggap profesional, maka kenyataannya dana pemerintah masih dipakai untuk mengelola klub setempat. Walau, sistemnya sedikit berbeda.
“Contoh Seoul FC. Mereka pakai dana yang namanya dana pariwisata dari provinsi untuk timnya. Klub tersebut dijadikan sebagai duta wisata kota Seoul. Hanya memang duitnya dari provinsi. Nah ini yang dimaksudkan oleh saya,” sebut pelatih yang mengawali karir kepelatihannya di Persikota Tangerang ini.
“Bahwa tim hebat di Korea saja masih memakai dana pemerintah, kok di indonesia tahu-tahu dilarang sama sekali,” lanjutnya.
Kenyataan bahwa sudah banyak kasus korupsi yang berasal dari dana untuk klub sepak bola di Indonesia, Rahmad tidak dapat menyangkalnya. Sehingga, menurutnya yang lebih penting untuk dilakukan pemerintah adalah bagaimana mengawasi dana tersebut memang benar-benar sampai pada tempatnya.
“Masalahnya kan pertanggungjawabannya yang disalahgunakan,” ujar Rahmad.
Sebab peranan pemerintah dalam sendi-sendi masyarakat sendiri tidak bisa dihilangkan. “Bisa dibilang membangun olah raga itu merupakan bagian dari membangun masyarakat,” tutupnya.











zatnika
28/06/2011 at 23:20Kalau menurut saya ketika sepak bola menjadi industri, dimana apek bisnis menjadi lokomotif menggerakan prestasi maka keberadaan uang pemerintah dalam status bantuan menjadi "haram". Kecuali ada hubungan bisnis antara klub dg pemerintah. Misalnya, pemerintah menjadikan klub sebagai ajang promosi, maka klub hanya berstatus sebagai penyedia jasa promosi. Jadi hubungannya tetap hubungan bisnis.
bobotoh1978
28/06/2011 at 23:23Penggunaan dana APBD, sejauh alokasinya unt menyokong sarana infrastruktur dan bukan unt gaji/kontrak pemain dan operasional tim dalam satu musim saya pikir msh dimungkinkan.sehingga dana itu bs dinikmati jg khalayak luas. Malu donk ngaku profesional tp ngegaji pemain pake uang pajak rakyat.
mink_33
28/06/2011 at 23:50menurut saya APBD jelas-jelas harus di hentikan apapun konsekwensi nya , karena dampak buruk yg dihasilkan jauh lebih buruk dari prestasi di dapat ,,, menrut saya RD bicara atas dasar ('MUNGKIN'') tim yg dipimpin nya saat ini . . kalau tidak dihentikan APBD saat ini , mau kapan lagi ???????????????????????????????????????/
maximus
29/06/2011 at 00:04Belegug ning RD teh palebah dieu mah
ajri indarobi
29/06/2011 at 00:17ceuk sya mah dna APBD mmang hrs dhntikn tp tdk scra lngsng cba pmrnth bntu bgaimna cra spy klub trtntu mampu lps driAPBD
zatnika
29/06/2011 at 00:27Namun, dalam beberapa hal saya mengerti arah pemikiran RD, bahwa pemerintah daerah maupun pusat tidak bisa dipungkiri keberadaannya masih diperlukan dalam mendukung klub. Hanya saja, porsi dan bentuknya yg berbeda. Justru pemerintah daerah harus mendorong klub untuk mandiri dan dilirik sponsor. Misalnya memberikan kemudahan akses perizinan atau menjadikannya ikon wisata, tentunya dengan mekanisme bisnis, bukan transaksi politis.
kiki
29/06/2011 at 04:28klo menurut saya...gpp pake dana APBD .....dari pada dana APBD ilang ga jelas alias di korupsi ..
sotoy
29/06/2011 at 06:38Setuju tuh dana APBD bisa dipake tapi harus digaris bawahi pemakaian dana APBD harus murni bisnis. Mungkin bisa dicoba dengan penyertaan modal pada klub2 sepakbola, jadi pemerintah daerah mempunyai bagian modal dari suatu klub atau klub menjadi BUMD jika penyertaan modal minimal 51%. Tapi hal ini harus dibarengi dengan profesionalitas dari pemberi dana dan pengelola dana karena bisa bisa judulnya dana penyertaan eh jadi dana hibah
ahmad
29/06/2011 at 07:50menurut saya duit apbd pan duit rakyat, nonton maen bal pan ngahibur rakyat, make duit apbd ge teu nanaon, dari pada didahar ku partai di pake kampanye!!
chandra kelces
29/06/2011 at 08:44RD menurut saya benar APBD masih harus digunakan untuk membiayai tim. jangan pada coment kalo ga ngerti masalah APBD kemana saja alirannya. anggaran hibah itu memang ada dari pusat dan nilainya cukup besar.
chandra kelces
29/06/2011 at 08:48RD menurut saya benar APBD masih harus digunakan untuk membiayai tim. . anggaran hibah itu memang ada dari pusat dan nilainya cukup besar. sayang kalo tidak dipergunakan dengan baik atau malah jadi lahan korupsi. yang penting transparansi dan jelas dana itu utuh 100% dari pusat sampai ke tim itu sendiri.
ISL Lover
29/06/2011 at 10:51Menurut saya hanya orang-orang tidak mau bekerja keras saja (tadinya mau bilang "orang malas" tapi takut ada yang tersinggung) yang terus berharap di beri dana APBD untuk membiayai Klub ISL.
roni
29/06/2011 at 11:29jor jor onam asal persib we ulah, wirang euy! persib kudu nyontoan bener!!!
aji mumpung
29/06/2011 at 11:34haram keur persib make dana APBD deui
maximus
29/06/2011 at 11:38rek naon alesana ge angger mandiri jauh lebih alus jauh lebih elegan drpd netek APBD, masalah tim lain make APBD teu urusan penting PERSIB mah MONTONG!!!
menny viking
29/06/2011 at 11:42Klub lain pake APBD? EGP, PERSIB pake APBD? No Way titik sagede panto
jaka biru
29/06/2011 at 11:45alaaah rek alesan kumaha wae ge tetep make APBD mah amatiran, geus we balik ka perserikatan deui wkwkwk
antiAPBD
29/06/2011 at 13:00heueuh alesan eta si RD pedha klebna si JERUK masih nyusu kana APBD, si JERUK mah lain teu bisa mandiri, maraleus we euweh kahayang neangan dana sorangan sakitu aya di ibukota, DASAR JERUK
roni
29/06/2011 at 13:13Sterilkan persib dari kepentingan politik Sterilkan persib dari birokrat Sterilkan persib dari APBD Insya Alloh bakal jadi teladan klub2 Indonesia
socabesi
30/06/2011 at 05:06ngapain ributin APBD toh sekarang persib sudah mandiri jauh lebih maju dr tim lain (dlm segi bisnis), tolong jgn menghasut persib buat melangkah mundur...lepas dr APBD setidaknya mengurangi kecenderungan untuk berbuat dosa (korupsi.red)
Alfan biru
01/07/2011 at 15:33Yang terpenting pemerintah harus mengawasi kucuran dana itu sampai pd tempatnya! Kalimat ieu ti bahaeula ge aya..ngan hese praktekna Ari maneh RD Kos budak wae..
cas
02/07/2011 at 00:25wah, jangan didenger tuh RD. mentalnya masih orba.. semoga persib bisa terus mandiri tanpa APBD, amiin... ingat, APBD tuh uang rakyat, jadi setiap rakyat Jabar berhak atas dana itu.. makanya persib teu juara2 teh mereun aya nu teu ridho weh hakna dipake ku persib. ari nggeus mandiri mah lebih tenang lah..